Special Untuk Mu

detik ketika Misro berkarya

Perbedaan Perintah Puasa dan Sholat

Orang mengatakan, bahwa kalau puasa dengan Ru’yah, mengapa kalu akan Sholat, tidak melihat dahulu matahari. Dalam hal mengetahui masuknya puasa dan perintah Sholat, ALLAH membedakannya.

Perintah puasa digantungkan dengan Ru’yah yaitu penglihatan bulan atau istikmal 30 hari, sedang perintah masuk sholat hanya digantungkan kepada tahu atas masuknya waktu sholat.

Kalau kita sudah tah bahwa waktu sholat sudah masuk, maka kita kita boleh mengerjakan sholat, apakah itu tahu berdasarkan hisab atau berdasarkan penglihatan, perasaan, kebiasaan, keyakinan, mendengar suara bedug, melihat arloji, mendengar adzan, atau berdasarkan apa aja, sampai berdasarkan keluarnya kelelawar dari sarangnya pun boleh.

ALLAH tidak mendasarkan masuknya waktu sholat dengan sesuatu yang khusus. perhatikan perintah ALLAH tentang menjalankan sholat dhuhur seperti yan di jelaskan dalam hadist yang artinya :”Dirikanlah sholat ketika matahari telah bergelincir.”

Dalam ayat ini ummat islam diperintahkan oleh ALLAH sholat dhuhur apabila matahari sudah condong ke arah barat, bukan diperintahkan supaya sholat dhuhur apabila kamu melihat matahari sudah condong ke arah barat. ALLAH dan RosulNya tidak mensyaratkan dalam memasuki waktu sholat, melihat matahari tergelincir, matahari terbenam dan lain-lain.

Seumpama ALLAH dan RosulNya memerintahkan bahwa kita harus berpuasa kalau bulan Romadhon sudah ada, maka tidaklah diwajibkan Ru’yah (melihat), tetapi cukuplah apabila diketahui bahwa bulan puasa sudah masuk, walaupun pengetahuan itu melalui hisab Ahli Falak. Akan tetapi Nabi tidak mengatakan demikian, melainkan menggantungkan kepada Ru’yah, bahwa beliau melarang dengan tegas masuk Puasa dan berhari raya dengan dasar apa pun selain Ru’yah.

Sebagaimana Nabi bersabda yang artinya :”Janganlah kamu masuk puasa dan janganlah kamu berhari raya kecuali kalau kamu melihat hat Hilal.”
Hanya karena ada kata-kata “FAQDURU” dalam Hadist lain yang diriwayatkan olah Imam Bukhori dan Muslim, maka ada ulama, diantaranya Imam Subki tersebut dalam Kitab I’anatutolibin dan Musharrof bin As-Syarich yang memperbolehkan berpuasa dan berhari raya dengan memakai perhitungan Hisab.

Karena itu, Pemerintah RI didalam menetapkan awal bulan Ramadhan dan Syawal, selalu menunggu Hasil Ru’yah, yang perintah Ru’yah itu telah diperintahkan kepada Pengadilan Agama seluruh Indonesia sejak awal bulan Rojab.

Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin & Muslimat…..

31 Agustus 2009 - Posted by | Artikel Islam | , , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: